Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Para analis menilai rumah tangga perlu menerapkan strategi defensif guna menjaga stabilitas keuangan di tengah meningkatnya tekanan terhadap daya beli.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengatakan bahwa pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang impor, mulai dari pangan tertentu, obat-obatan, elektronik, hingga biaya transportasi dan logistik.
Tidak ada komentar