Liputan6.com, Jakarta - Kontras tajam antara birunya langit Singapura dan pekatnya kabut abu-abu polusi saat mendekati ruang udara Jakarta menjadi tamparan keras yang membuka diskusi krusial mengenai tanggung jawab ekologis korporasi.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan estetika visual, melainkan alarm bahaya eksistensial mengenai degradasi lingkungan yang kian nyata di depan mata. Korporasi teknologi besar kini dipaksa menghadapi realitas bahwa profitabilitas tanpa keberlanjutan adalah jalan pintas menuju kehancuran kolektif.
Tidak ada komentar