Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Pengamat mata uang sekaligus Presiden Direktur Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang menahan penguatan rupiah.
"Iya ini masalahnya tingkat imbal hasil obligasi AS masih belum mau turun juga, dipicu oleh perdamaian AS Iran yang masih belum diputuskan dan masih ada adu senjata di kawasan Timur Tengah tersebut,” ujar Ariston kepada Liputan6.com, Kamis (28/5/2026).
Tidak ada komentar