Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) bisa memberikan keuntungan bagi eksportir komoditas unggulan Indonesia. Namun, hal tersebut dinilai tak bisa berlangsung lama.
Kepala Pusat Makroekonomi, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman mengamini ada keuntungan bagi eksportir imbas penguatan dolar AS.
Tidak ada komentar