Liputan6.com, Jakarta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Jumat (9/2/2024) mengarahkan militer negaranya untuk merencanakan “evakuasi penduduk” dari Rafah setelah mengatakan bahwa IDF akan “segera pergi ke Rafah, benteng terakhir Hamas.”
Komentarnya memicu badai kritik, dan Human Rights Watch mengatakan pemindahan paksa warga Palestina di Rafah akan menimbulkan “konsekuensi bencana.” PBB mengatakan pihaknya “sangat khawatir dengan nasib warga sipil di Rafah,” menurut juru bicara PBB Stéphane Dujarric, yang mengatakan masyarakat “perlu dilindungi.”
Tidak ada komentar