REPUBLIKA.CO.ID, oleh Silvy Dian Setiawan
Hanya selang beberapa hari, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X berbeda pernyataan soal karantina wilayah atau lockdown. Jika pada Jumat pekan lalu Sultan seperti memberikan isyarat akan me-lockdown Yogyakarta, awal pekan ini sikapnya berbeda.
Pada Jumat (18/6) lalu, Sultan menilai, penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro tidak berjalan efektif di masyarakat. Padahal, PPKM mikro ini mengatur pencegahan Covid-19 mulai dari tingkat terbawah, yakni tingkat RT/RW."Satu-satunya cara ya lockdown, kita kan sudah bicara PPKM mikro, kan sudah bicara penanganan (mulai) di RT/RW, padukuhan. Kalau itu pun gagal dan mobilitasnya seperti ini, mau apalagi, ya lockdown," kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (18/6).Sultan menuturkan, lonjakan kasus yang terjadi di DIY disumbang oleh tidak disiplinnya masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan. Dengan demikian, penerapan lockdown dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mengontrol penyebaran Covid-19 yang semakin meluas di DIY.
Tidak ada komentar