Liputan6.com, Jakarta - Ekspor kendaraan Jepang ke kawasan Timur Tengah dilaporkan anjlok drastis pada April 2026. Data pemerintah Jepang menunjukkan penurunan lebih dari 90 persen, baik dari sisi volume maupun nilai, setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Situasi tersebut menjadi pukulan berat bagi industri otomotif Jepang. Pasalnya, Timur Tengah selama ini merupakan salah satu pasar penting untuk berbagai model kendaraan asal Negeri Sakura, termasuk SUV berukuran besar dan kendaraan niaga.
Tidak ada komentar